Friday, December 9, 2011

Di balik senyum ku

Aku duduk didepan tv sambil menunggu mama pulang. Oh, maksudku sambil  berharap mama akan pulang hari ini. Acara tv yang ku nikmati adalah kartun, jadi tak terasa  sembilan puluh menit sudah berlalu. Tiba tiba ‘kriing..kring’. “Ah telepon mengagetkan saja” ujarku sambil berjalan ke arah telepon. “halo?” kataku tanpa mengucap salam terlebih dulu. “hai sayang, mama minta maaf ya tapi hari ini mama gak bisa pulang. Kamu tidur sama bibi bibi aja ya, kalau mau, panggil temen aja atau gimana terserah kamu sayang. Mama juga minta maaf karena gak punya banyak waktu, mama sayang kamu bye” ujar mama dengan cepat. “iya ma gapapa kok, aku juga sayang mama bye” jawabku walaupun telepon sudah diputus sebelum aku menjawab. Dengan perasaan kecewa aku bersandar di kursi tempat aku menonton tv tadi. “Mama sibuk sama apa sih? Sampe ngomong sama anaknya aja gak ada waktu” batinku.

Sambil bermalas malasan aku berjalan menuju kamarku. Sesampainya di kamar aku hanya duduk sambil melamun, walaupun awal nya aku berniat belajar. “oh aku harus belajar matematika hari ini, ya Tuhaaaaaan malasnya” keluhku sambil mencoba menyegarkan diri. Setelah beberapa detik mengumpulkan semangat dengan cekatan aku mengambil buku dan membacanya.

“non, makan malam dulu” ujar bi Pohi dari balik pintu kamarku. “tolong bawain aja ya bi, Lolli males keluar” jawabku sambil sibuk berkumat kamit menghapal materi. “baik non” jawabnya.
Setelah makan aku tak langsung tidur. Aku membuka laptopku dan mengunjungi dunia mata untuk sesaat. Aku klik pada kotak facebook. Seperti pengguna facebook pada umumnya, aku membuka notification, message, dan friend request. Setelah itu chatting dengan teman dan setelah merasa bosan, kembali kepada dunia nyata.

Sambil berbaring di kasur aku meraih ponselku. “tak ada sms tak ada apa apa, sepi seperti rumahku” batinku.”Kalau saja ada papa, eh aku gaboleh inget papa terus” aku terus saja ngomong sendiri.

Namaku Lollita Laura. Aku adalah anak tunggal dari mama dan papaku. Mamaku adalah insinyur pertambangan yang jarang sekali ada dirumah, dan aku tak tahu apa pekerjaan papa sekarang. Sekarang aku tinggal bersama mama. Mama dan papaku sudah bercerai. Awalnya papa tidak pernah pulang ke rumah, kira kira 10 bulan papa tidak pulang. Mama tidak merasa sedih walaupun papa tidak ada, akupun tidak mengerti mengenai hati mama. Mama bilang mama bisa hidup tanpa papa, kalau papa tidak memikirkan kita untuk apa kita memikirkan papa, hanya menyita waktu saja. Setelah itu kami mendengar gossip kalau papa sudah menikah dengan wanita lain. Mama bilang papa pasti sudah berselingkuh dengan wanita lain sebelum dia kabur dan papa pasti sudah menceraikan mama secara sepihak.

Tak lama kemudian papa datang ke rumah dengan pakaian yang compang camping dan badan yang sangat kotor. Aku melihat dari balkon papa sedang menangis di depan rumahku. Aku ingin datang menjemputnya tapi aku berpikir papa hanya datang ketika ia sudah tidak mampu, tapi ketika ia mampu tak sedikit pun ingatan tentangku dan mama terlintas di kepalanya. Tapi aku tetaplah anak kandungnya, aku berlari kebawah dan menjemputnya. Aku mengajaknya masuk tapi papa tak mau. Aku menariknya tapi dia memelukku sambil berkata “maafkan papa nak, papa menyesal pernah meninggalkanmu. Sekarang papa tidak bisa bersamamu sayang, papa harus pergi. Papa janji kita akan bertemu lagi ya”. “Papa mau kemana lagi, papa disini aja kita mulai semuanya dari awal pa”. “Tidak sayang kesalahan telah papa buat dari awal, sekarang papa harus merasakan pahitnya. Papa harus hidup sendiri, tapi papa janji akan menemuimu lagi, papa pamit ya. Papa menicintaimu” katanya sambil berdiri setelah mengecup keningku. “Pa bawa bekal dulu pa” ujarku sambil melepaskan kalung emas berlian hadiah ulang tahunku dari papa beberapa tahun kebelakang. “Tidak sayang, itu milikmu”. “Tidak pa, bawa saja lagipula ini kan permberian dari papa”. “uuuuuuuuuum…baiklah, papa janji akan mengembalikannya, sekarang kau masuk rumah ya, see you next time my love” ujarnya sambil mendorongku masuk ke dalam pagar.
Papa pergi, aku menangis di pagar sambil melihat papaku yang berjalan mencari tempat tinggal. Sementara aku sebagai anaknya mempunyai tempat tinggal yang sangat nyaman. Aku merasa bersalah karena tidak bisa apa apa, namun tiba tiba pikiran tentang mama datang. Pikiran tentang bagaimana sakitnya mama ketika papa meninggalkannya, walaupun ia tak menangis tapi aku yakin mama kecewa.
***
“Lolliiiiiiiii… mama pulang nak”ujar mama. Aku segera bangkit dari lamunan ku dan bergegas turun ke bawah. Di bawah aku melihat mama sedang bersandar di sofa, raut mukanya menunjukan ia sedang kelelahan. “Mamaaaa akhirnya mama pulang aku kangeen banget” ujarku dalam pelukan erat mama. “Mama juga kangen” katanya. “Mama istirahat aja dulu, mama pasti capek banget kan”ujarku sambil melepaskan pelukan mama. “Loli emang anak baik, mamanya baru pulang udah ditawarin istirahat, biasanya anak orang itu minta ditemenin jalan jalan loh hahaha”. “Jalan jalannya ntar aja ma kalo mama udah gak capek. Mama kan pernah ngasih tau loli kayak gitu”. “Anak pintar” jawab mama sambil mengelus kepalaku. Setelah itu mama bergegas masuk ke kamarnya dan aku pergi ke meja belajar dengan senang. Senang karena aku tahu mama sudah kembali dengan tidak kekurangan apapun. Sebenarnya aku ingin cerita banyak dengan mama tapi walaupun aku cerita pasti mama tertidur ketika mendengarnya. Yang ada aku malah jadi tersinggung.

Waktu itu mama pulang sekitar jam 7pm. Karena belum terlalu malam dan aku belum bisa berbicara dengan mama, maka aku putuskan untuk belajar. Ya memang membosankan, tapi apalagi yang harus ku lakukan? Main laptop? Entahlah akhir akhir ini aku sama sekali tidak ingin bermain laptop. Lagi pula aku sudah terbiasa seperti ini. Setelah pukul 9pm aku ke dapur untuk makan sereal. Setelah itu aku sikat gigi, cuci tangan, cuci kaki, dan cuci muka. Lalu aku lompat ke ranjangku. Aku menarik selimutku sendiri dan mematikan lampu sendiri. Sejenak aku teringat masa kecilku, masa di mana papa dan mama selalu menemaniku sebelum aku tidur, menarikan selimut untuk ku, mematikan lampu kamarku, dan membacakan dongeng sebelum tidur sambil mengelus lembut rambutku. Tak lupa mereka mengecup keningku sebelum meninggalkanku.Tapi sekarang semua harus kulakukan sendirian. Tiba tiba saja pikiran itu terganti dengan keadaan papa. Di mana papa sekarang? Apa papa sudah mendapat tempat yang layak? Mengingat aku baru saja memberikan kalungku. Aku yakin kalung itu sangat mahal harganya. Tapi apakah papa akan menikah lagi dengan modal yang sudah kuberikan? Ah sudahlah, aku harap apapun yang ayah lakukan adalah baik, setidaknya baik untuk dirinya sendiri.
***
“Lolii… banguuun sayaang. Hari ini kamu sekolah kan?”. Sayup sayup suara mama terdengar begitu halus, aku berusah membuka mataku, tapi apa ini? Kepalaku terasa sakit, sakiiiit sekali. “Maaa?”. “Ada apa sayang? Muka mu pucat sekali. Kau sakit nak?” ujar mama sambil memegang dahi ku. “Entah ma, tapi kepalaku sakit sekali, dan badanku sakit semua. Aku kenapa maa?” jawabku lalu menangis. Biasanya aku jarang sakit. Kalau sakitpun paling hanya flu atau pusing yang hanya beberapa detik. Dan itu biasanya tidak mempengaruhi badanku. Tapi ini semuanya serasa menyakitkan. Aku ini kuat, tapi aku menangis. Lalu mama memanggil pak supir untuk mengantarku ke rumah sakit. Di mobil aku duduk di sebelah mama. Aku melihat muka mama agak tegang. Namun aku benar benar tak berdaya, tiba tiba aku tak sadarkan diri.

Perlahan aku membuka kelopak mataku. Aku melihat keadaanku di sekitarku. Oh aku sudah tau, dari baunya saja sudah tertebak aku pasti sudah masuk ruang ICU. Mama tidak ada di sampingku. Aku meminta kepada suster agar membawakan mama masuk ke dalam. Akhirnya mama masuk dan duduk di sebelahku. Aku merasa lebih tenang dari sebelumnya. “Ma aku kenapa ma?” tanyaku ketika mama membelai belai rambutku. “Kau tidak apa apa sayang. Kau hanya kelelahan”. “Jangan bohong ma, tolong beri tahu penyakitku”. Perlahan air mata mulai membasahi pipiku. Dengan sigap mama mengusapkan tissue ke pipiku. “Mama tidak menyangka, mama akan punya anak kuat seperti mu nak”. “Apa maksudnya ma? Jelaskan intinya saja ma, jangan berbelit-belit, aku penasaran” aku memaksa mama. Aku melihat wajah mama, tak ada air mata yang menetes dari matanya. “Selama ini, aku pasti sudah mengalami sakit yang luar biasa kan? Walaupun itu hanya terjadi dalam jangka waktu yang pendek. Mama yakin kau hanya menganggapknya sepele kan?”. “Iya ma, Lalu bagaimana?”. “Itu adalah gejala dari kanker yang kau derita nak, ini adalah stadium terakhir. Mungkin hanya keajaiban yang mampu menyelamatkanmu” ujar mama tanpa air mata. Aku menangis dan mama tidak. Aku bingung siapa sebenarnya aku ini? Mengapa mama tak pernah peduli padaku? Mengapa mama tidak pernah menangisiku? Mengapa mama tega mengatakan hal yang sepetutnya disembunyikan? Mengapa mama ku tidak seperti mama mama lain yang sangat mempedulikan anaknya? “Mama jahat! Aku ini bukan anak mama kan? Pertmukan aku dengan mama asliku!” ujarku sambil menangis. Aku melepaskan tangannya dari kepalaku. “Apa yang membuatmu berkata seperti itu? Mengapa kau mengira aku bukan ibumu?”. “Mama tidak pernah menangis! Kenapa? Karena mama tidak peduli padaku kan? Ketika papa pergi mama tidak menangis, mama dingin saja! Mama pasti sudah punya papa lain kan? Dan mama juga sudah punya anak dari papa yang lain kan?. Dan sekarang, aku sudah mau mati ma. Mama sama sekali tidak menangis juga? Mama mau kehilangan anak tunggal ma! Seorang ibu pasti akan menangis, tapi mama tidak!” ujarku sambil tak henti menangis. “Hanya Karena Air Mataku Tak Jatuh, Tak Berarti Hatiku Tak Menangis” ujar mama dengan tenang ia mengecup pipiku. Mama memeluk ku begitu lama. Aku merasa sangat tenang. Ia benar benar mama asliku. Karena pelukannya dapat membuatku merasa seperti di surga. Mama melepaskan pelukannya, lalu melihat aku sudah terlelap. Terlelap dalam tidurku yang panjang, terlelap dalam tidur yang tak akan bangun lagi. Mama menangis, menangis begitu hebatnya. Ternyata dokter menyuruh mama untuk tenang, dan tidak menangis di depanku. Agar aku dapat pergi dengan tenang, dengan seutas senyum yang tak mungkin kulupakan. “Maafkan mama sayang. Mama sungguh gagal dalam menjadi ibu yang baik. Mama sangat mencintaimu nak sungguh. Mama tidak seperti apa yang kau bayangkan. Kau adalah anak yang sangat kuat yang pernah mama temukan di bumi. Mama benar benar bodoooh!!!!! Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!” jerit mama. Tiba tiba terdengar suara orang berlari “LOLIIII!!!!! Jangan pergi sayang!! Papa sangat menyayangimuuuu. Jangan tinggalkan papa sendiri di bumi ini. Banguuuun Loliiiiiiiiiii!!!” jerit papa. “Kau bodoh! Kurang baik apa Loli kepadamu? Mengapa kau memperlakukan anakmu seperti ini? Dimana otakmu? Dia anakmu!!! Kau menangis ketika ia sudah begini? Dia masih anak anak! Umurnya masih 9 tahun! Dia tidak sekuat yang kau bayangkan!” ujar papa. Mama menangis dengan hebat. Papa memeluk ku dengan erat, di samping mama menangis di wajahku. Selamat tinggal papa, selamat tinggal mama! Aku bahagia mempunyai kalian, aku bahagia bisa bertemu kalian sebelum aku pergi. Aku akan tenang di sini ma, pa.(Inri Sumitra Dewi)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment